Tangkal flu burung, Inggris membuat zone eksklusif

Pemerintan Inggris mengeluarkan keterangan resmi mengenai adanya kasus flu burung yang ditemukan di sebuah penangkaran bebek di Yorkshire Inggris. Meski demikian, Departemen Lingkungan, Pangan dan Urusan Perdesaan Defra mengatakan risiko kasus itu terhadap kesehatan masyarakat sangat kecil.

Unggas yang terinfeksi flu burung telah dikeluarkan dari tempat penangkaran itu dan kemudian dibuat zona eksklusif.

Penempatan bebek di zona eksklusif untuk tangkal penyebaran flu burung (BBC)
Penempatan bebek di zona eksklusif untuk tangkal penyebaran flu burung (BBC)

Zona ekslusif di sekitar peternakan Yorkshire akan mencegah seluruh unggas dan kotorannya keluar dari area tersebut. Sekitar 6.000 bebek akan dimusnahkan.

Strain flu burung tersebut belum dapat dikonfirmasi, tetapi menurut Defra, bukan termasuk H5N1 strain yang dapat menyebabkan kematian.

Aksi cepat

“Kami telah mengkonfirmasi sebuah kasus flu burung pada penangkaran bebek di Yorkshire – risiko terhadap kesehatan masyarakat sangat rendah dan tidak ada risiko terhadap rantai makanan.

Virus menyebar antar unggas dan dalam kasus yang jarang terjadi, dapat menginfeksi manusia. “Kami telah melakukan aksi cepat dan tanggap termasuk membuat zona larangan sekitar 10 km dan memusnahkan seluruh unggas di peternakan itu sebagai upaya pencegahan penyebaran infeksi. Investigasi secara mendetail tengah dilakukan.”

Baca juga  Di mana letak seni memelihara burung branjangan?

Defra memastikan memiliki rekam jejak yang bagus dalam mengontrol dan mengatasi penyebaran virus avian flu yang sebelumnya pernah terjadi di Inggris.

Kasus flu burung ini merupakan yang pertama kali terjadi di Inggris sejak 2008 lalu. Sebuah penyebaran flu burung dengan strain yang memiliki tingkat penularan tinggi ditemukan di sebuah peternakan Unggas di Belanda.

Kasus flu burung telah menjadi kekhawatiran dunia. Salah satu kasus terakhir korban flu burung adalah warga Mesir setelah satu wanita warna negara Mesir meninggal dunia akibat virus H5N1 atau flu burung. Kematian ini merupakan kematian kedua dalam dua hari terakhir dan korban tewas ketiga akibat flu burung di Mesir, sepanjang tahun 2014 ini.

Disampaikan Kementerian Kesehatan Mesir dan dilansir Reuters, dan dikutip detik.com Rabu (19/11/2014), wanita berusia 30 tahun yang berasal dari Provinsi Minya, Kairo bagian selatan ini dinyatakan meninggal dunia di rumah sakit di kota Assiut, pada Selasa (18/11) waktu setempat.

Selang sehari sebelumnya, pada Senin (17/11), seorang gadis berusia 19 tahun di Mesir dinyatakan meninggal akibat flu burung di rumah sakit yang sama.

Baca juga  Lapak dibgongkar, PKL Pasar Burung Karimata hanya pasrah

Kementerian Kesehatan Mesir, seperti dikutip media setempat Al-Ahram menyatakan, sejauh ini berhasil mengidentifikasi total 7 kasus flu burung di Mesir sepanjang tahun ini. Dari jumlah tersebut, tiga kasus di antaranya berujung kematian.

Data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dari tahun 2003 hingga 2 Oktober 2014 menyebutkan, adanya 668 kasus terinfeksi H5N1 terhadap manusia di sebanyak 16 negara. Dari jumlah tersebut, sebanyak 393 kasus berujung kematian.

Kasus flu burung di Mesir sebagian besar ditemukan di kawasan pedesaan miskin yang terletak di bagian selatan negara ini. Di sana warga setempat kerap memelihara dan memotong unggas di rumah masing-masing.

WHO memperingatkan bahwa virus flu burung bisa menyebar luas di antara unggas, sehingga ada risiko manusia terinfeksi ketika melakukan kontak langsung dengan unggas-unggas yang membawa virus H5N1. Namun kasus penularan virus H5N1 antar manusia tergolong tidak mudah dan jarang terjadi.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*