Sistem kerangka burung kicauan

Sistem kerangka burung kicauan hampir sama dengan sistem kerangka burung pada umumnya. Burung memiliki sistem kerangka yang ringan dan otot yang ringan tapi kuat.

Kekuatan itu ditunjang oleh sistem kardiovaskular (atau sistem peredaran darah, yakni suatu sistem organ yang berfungsi memindahkan zat ke dan dari sel) dan sistem pernapasan yang mampu berfungsi dalam tingkat metabolisme yang tinggi serta asupan oksigen yang memungkinkan burung untuk terbang.

Perkembangan paruh telah membawa evolusi pada sistem pencernaan. Kekhususan anatomi tersebut telah menempatkan burung dalam klasifikasi ilmiah mereka dalam filum vertebrata.

Kerangka burung sangat beradaptasi untuk terbang. Kerangka tersebut sangat ringan, namun cukup kuat untuk menahan tekanan pada saat lepas landas, terbang dan mendarat.

Salah satu kunci adaptasi yakni tergabungnya tulang dalam osifikasi tunggal. Hal ini membuat burung memiliki jumlah tulang yang sedikit dibanding vertebrata lain yang hidup di darat.

Burung juga tidak memiliki gigi bahkan rahang, namun memiliki paruh yang lebih ringan. Paruh pada anak burung memiliki “gigi telur” yang digunakan untuk membantu keluar dari cangkang telur.

Burung memiliki banyak tulang yang berongga yang saling bersilang untuk menambah kekuatan struktur tulang. Jumlah tulang berongga bervariasi antar spesies, meskipun burung yang terbang dengan melayang atau melambung cenderung memiliki tulang berongga yang lebih banyak.

Kantung udara dalam sistem pernapasan sering membentuk kantung-kantung udara dalam tulang semi berongga pada kerangka burung (Ritchison, Gary. “Ornithology (Bio 554/754):Bird Respiratory System”. Eastern Kentucky University. Diakses 2007-06-27.).

Kantung udara burung dan bagian-bagiannya (wikipedia.org)
Kantung udara burung dan bagian-bagiannya (wikipedia.org)

Beberapa burung yang tidak mampu terbang seperti penguin atau burung unta hanya memiliki tulang yang padat, hal ini membuktikan hubungan antara kemampuan terbang burung dengan adaptasi pada sistem rongga pada tulang.

Burung juga memiliki tulang leher yang lebih banyak dibanding binatang lainnya. Kebanyakan memiliki tulang leher yang sangat fleksibel yang terdiri dari 13 – 25 tulang.

Burung merupakan satu-satunya binatang vertebrata yang memiliki tulang selangka yang menyatu (furcula atau tulang dada). Hal ini berfungsi sebagai penopang otot pada saat terbang, atau serupa pada penguin untuk menopang otot pada saat berenang.

Adaptasi ini tidak dimiliki oleh burung yang tidak bisa terbang seperti burung unta.

Menurut catatan, burung perenang memiliki tulang dada yang lebar, burung yang berjalan memiliki tulang dada yang panjang atau tinggi, sementara burung yang terbang memiliki tulang dada yang panjang dan tingginya mendekati sama. (Ayhan Duezler, Ozcan Ozgel, Nejdet Dursun (2006) Morphometric Analysis of the Sternum in Avian Species. Turk. J. Vet. Anim. Sci. 30:311-314)

Burung memiliki bengkokan tulang rusuk yang merupakan perpanjangan tulang yang membengkok yang berfungsi untuk menguatkan tulang rusuk dengan saling bertumpang tindih. Fitur ini juga ditemukan pada Sphenodon.

Mereka juga memiliki tulang panggul tetradiate yang memanjang seperti pada beberapa reptil. Kaki belakang memiliki sambungan intra-tarsal yang juga ditemukan pada beberapa reptil.

Ada perpaduan yang lebar pada tulang tubuh sama seperti perpaduan tulang dada. Mereka memiliki tengkorak diapsid seperti pada reptil dengan lekukan air mata. Tengkoraknya memiliki oksipital kondilus tunggal.

Tengkorak burung

Tengkorak burung terdiri dari lima tulang utama:

  • frontal (atas kepala)
  • parietal (belakang kepala)
  • premaksilari dan hidung (paruh atas)
  • mandibula (paruh bawah)

Tengkorak burung normal biasanya beratnya sekitar 1% dari berat badan keseluruhan burung. Mata burung menempati sebagian besar tengkorak dan dikelilingi oleh cincin mata-sklerotik, cincin tulang kecil yang mengelilingi mata.

Sistem tulang belakang dapat dibagi menjadi tiga bagian: cervical (11-25) (leher), Synsacrum (menyatu pada tulang punggung, juga menyatu pada pinggul), dan pygostyle (ekor).

Dada terdiri dari furcula (tulang garpu) dan coracoid (tulang leher), dimana dua tulang, bersama-sama dengan tulang belikat membentuk pectoral korset. Sisi dada dibentuk oleh tulang rusuk, yang bertemu di tulang dada.

Bahu terdiri dari skapula (tulang belikat), coracoid (tulang leher), dan humerus (tulang lengan atas). Lengan atas bergabung dengan tulang pengumpil dan ulna (lengan) untuk membentuk siku.

Tulang-tulang karpus dan metakarpus membentuk “pergelangan tangan” dan “tangan” dari burung, dan jari-jari yang digabungkan bersama. Tulang-tulang di sayap sangat ringan sehingga burung bisa terbang lebih mudah.

Pinggul terdiri dari panggul yang meliputi tiga tulang utama: Illium (atas pinggul), iskium (sisi pinggul), dan pubis (depan pinggul). Ketiga tulang ini menyatu menjadi satu (tulang innominate).

Tulang innominate merupakan evolusi yang signifikan yang memungkinkan burung untuk bertelur. Mereka bertemu di acetabulum (soket pinggul) dan mengartikulasikan dengan tulang paha, yang merupakan tulang pertama dari kaki belakang.

Kaki bagian atas terdiri dari tulang paha. Pada sendi lutut, tulang paha menghubungkan ke tibiotarsus (tulang kering) dan fibula (sisi tungkai bawah). Tarsometatarsus membentuk bagian atas kaki, serta jari yang membentuk kaki.

Tulang kaki burung merupakan tulang yang paling berat, berkontribusi pada rendahnya titik berat burung. Hal ini membantu dalam penerbangan. Sebuah kerangka burung terdiri dari hanya sekitar 5% dari total berat badan burung.

Sistem tulang burung kicauan

Sistem tulang burung kicauan sama dengan sistem tulang burung pada umumnya, misalnya saja kerangka burung merpati seperti contoh di bawah ini:

Sistem kerangka burung merapti (wikipedia.org)
Sistem kerangka burung merapti (wikipedia.org): Sistem tulang pada kerangka merpati: 1. Tengkorak 2. Tulang leher 3. Furcula 4. Korakoid 5. Bengkokan tulang rusuk 6. Keel 7. Patela 8. Tarsometatarsus 9. Jari 10. Tulang kering 11. Fibia 12. Tulang paha 13. Iskium 14. Pubis 15. Illium 16. Tulang ekor 17. Pygostyle 18. Synsacrum 19. Scapula 20. Lumbar vertebrae 21. Humerus 22. Tulang hasta 23. Tulang pengumpil 24. Karpus 25. Metakarpus 26. Jari 27. Alula

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *