Memilih burung masteran yang tepat untuk murai batu

Murai batu kini lebih disukai yang memiliki suara-suara isian yang penuh tembakan tajam dan kasar.
Penggemar burung di Indonesia cenderung menampilkan murai batu dengan
variasi suara isian daripada penampilannya, hal ini sangat berbeda
dengan situasi di negara tetangga di mana mereka lebih mementingkan
penampilan dan keindahan burung dari pada suaranya.


Lalu sebenarnya jenis-jenis suara masteran apa sajakah yang tepat untuk burung murai batu?
Selama
ini Murai batu trotolan banyak dicari karena dalam usia tersebut burung
dalam keadaan “kosong” sehingga tugas kita selaku perawat untuk
“mengisinya” dengan suara-suara yang tepat agar setelah dewasa mereka
bisa mengeluarkan segenap kemampuannya dengan maksimal. 


Umumnya
penggemar burung lebih suka memaster anakan burung mereka dengan suara
masteran yang popular seperti cililin, tetapi pada usia yang masih
anakan memaster burung dengan suara cililin yang memiliki karakter suara
yang cepat, rapat, dan tajam tentu akan membutuhkan waktu. 

Karena
itu akan lebih efisien jika kita pada tahap-tahap awal pemasteran kita
berikan suara yang  mudah dicerna oleh anakan murai tersebut misalnya
memaster anakan murai itu dengan burung lovebird dan parkit. 

Namun tentu saja pemasteran bisa dilakukan
dengan beberapa ekor burung yang sudah rajin bunyi (gacor) sehingga
nantinya burung-burung itu akan saling sahut menyahut dengan rutin.

Baca juga  Download lagu klasik dan suara burung untuk terapi

Umumnya
pemasteran bisa dilakukan dengan menggantung sangkar anakan murai batu
tersebut di antara burung-burung masterannya, untuk hasil yang memuaskan
sebaiknya burung masteran diberikan dalam jumlah lebih dari satu ekor,
misalnya sepasang atau dua ekor burung masteran yang rajin bunyi.
Biasanya pula jika burung masteran rutin sahut-sahutan, dalam waktu
kurang lebih satu bulan anakan murai sudah menguasai suara-suara dari
masterannya itu.


Setelah anakan murai
berhasil menguasai suara-suara masterannya itu, maka untuk satu bulan
berikutnya pemasteran bisa dilakukan dengan menggunakan burung jenis
lainnya misalnya burung cucak jenggot atau kenari. Dan seperti yang
sudah dilakukan sebelumnya, akan lebih efektif jika kita menyediakan dua
ekor atau lebih burung masteran yang sudah dalam kondisi rajin bunyi
atau gacor. 


Pada saat inilah anakan murai
sudah memiliki kemampuan yang terlatih, mereka umumnya sudah mampu
menguasai suara-suara yang didengarnya dengan cepat. Karna itulah
setelah anakan murai tersebut sudah menguasai semua suara masterannya,
maka pada tahap selanjutnya adalah membentuk karakter lagu-lagunya
dengan memberikan suara masteran yang kasar seperti suara tembakan
burung cililin.


Ketika murai batu sudah
menguasai suara cililin dan burung-burung masteran sebelumnya, maka
anggap saja pemasteran anda sudah berjalan dengan hampir sempurna.
Berikutnya anda tinggal memaster burung itu dengan suara – suara lain
yang anda inginkan, tentu saja hal itu dilakukan untuk menambah
perbendaharaan lagu-lagu yang dimilikinya.


Banyak
jenis-jenis burung yang memiliki suara yang baik untuk memaster burung
murai batu yang kita punyai tetapi sebelumnya anda harus memperhatikan
karakter dan jenis dari lagu yang dibawakan oleh burung-burung masteran
tersebut. 

Baca juga  Burung Kepodang si elok nan menawan

Jangan sampai ada suara mati yang justru membuat
suara-suara yang sebelumnya anda latih menjadi tidak berarti, misalnya
saja suara dari burung yang dominan dengan siulan karena nantinya burung
murai tersebut cenderung akan terus membawakan lagu yang berirama
siulan (lantaran mudah dilagukan) sehingga akan melupakan suara-suara
masteran yang sebelumnya dilatih dengan susah payah


Untuk
menambah variasi suara murai batu ketika burung sudah menguasai semua
suara-suara andalannya bisa memanfaatkan beberapa jenis burung ocehan
seperti rambatan, suara hutan dari burung jalak suren atau jalak
malaysia, dan sebagainya. 


Semoga bermanfaat



1 Comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*