Membuat inkubator darurat untuk penetasan telur

Banyak penyebab kegagalan dalam proses penetasan telur oleh indukan, misalnya indukan yang akan meninggalkan sarangnya karena selalu terganggu atau indukan yang memiliki sifat buruk misalnya selalu membuang telur-telurnya. Jika sudah demikian solusi yang bisa dilakukan adalah menitipkan telur burung tersebut pada telur burung babuan. 

Seperti diketahui, agar telur bisa menetas setidaknya beberapa hal
sangat dibutuhkan dalam perkembangannya tersebut  yaitu indukan yang
berpengalaman atau indukan yang sudah cukup umur, dengan demikian mereka
akan dengan mudah melakukan pekerjaannya tanpa terganggu oleh masalah
lainnya.

Untuk menetaskan telur indukan tersebut harus melakukan beberapa hal sebagai berikut :

  • Mengerami telurnya dengan tujuan menghangatkan telur.
  • Membolak – balik telur.
  • Membuat atau menjaga kelembaban dalam sarangnya.

Jika
salah satu tidak dilakukan, maka sudah bisa dipastikan telur akan gagal
menetas, terutama jika indukan yang selalu mengabaikan sarangnya.
Lalu bagaimana jika kita tidak memiliki burung babuan, atau dalam kondisi darurat kita menemukan sebuah sarang yang berisi telur di alam ? Jawaban yang paling rasional tentu kita membutuhkan inkubator untuk membantu menetaskan telur tersebut.

Penggunaan
inkubator memang sudah menjadi salah satu kebutuhan dalam sebuah
penangkaran, selain untuk meningkatkan keberhasilan penetasan telur juga
bisa meningkatkan produktivitas penangkaran, dan dipasaran memang sudah
banyak dijual peratalatan inkubator baik yang berukuran kecil maupun
berukuran besar.  Kalau pun kita tidak memiliki perangkat inkubator tersebut, maka kita bisa saja membuat sendiri perangkat inkubator sangat sederhana dengan berbahan dasar bahan yang mudah ditemukan di sekitar kita, hanya untuk tujuan darurat saja.

Membuat sendiri inkubator darurat  

Untuk itu kita bisa membuat Inkubator Darurat atau ISS ( Inkubator
Sangat Sederhana ) yang tujuannya untuk menyelamatkan telur yang tidak
dirawat dengan semestinya oleh indukan burung.

 

Contoh inkubator darurat untuk menetaskan telur

 Media
yang akan digunakan sebagai inkubator darurat ini bisa menggunakan
bahan-bahan yang tidak terpakai seperti kotak stereofoam kecil, kotak
kayu dari triplek, kontainer plastik atau bisa juga menggunakan kotak
kaca /akuarium kecil ( jika menggunakan kotak kaca, maka suhu harus
selalu dipantau karena sifat kaca yang bisa menyebarkan panas ), masukan
kedalam kotak tersebut beberapa kain handuk yang digulung melingkar di
tengah dari dalam kotak tersebut atau dibentuk menyerupai sarang burung,
dua buah kain bisa digunakan yang masing-masing dibentuk menggulung dan
diletakan ditengah kotak dengan posisi melingkar dengan lingkaran kecil
ditengah-tengahnya. Pada bagian tengah tersebut diletakan lagi kain
lembut untuk tempat meletakan telur-telurnya.

Baca juga  Burung pecuk galapagos yang lupa bagaimana caranya terbang

Siapkan wadah berisi
air bisa menggunakan pisin kecil atau gelas kecil yang berisi air, lalu
letakan di sudut dari kotak tersebut. Air berguna untuk membuat
kelembaban didalam kotak tersebut. Perlu diperhatikan pula disini kita
harus sering memantau kondisi air tersebut, karena suhu panas bisa
membuat air cepat menguap maka penambahan air perlu dilaukan jika air di
dalam wadah tersebut tampak berkurang atau mulai habis.
Lampu
pemanas mulai diletakan diatas kotak tersebut, yang berfungsi untuk
memberikan panas dan kehangatan pada telur-telur didalamnya, gunakan
lampu dengan daya yang rendah misalnya 10 watt , kemudian letakan tepat
diatas  telur yang berada dalam kotak tersebut.

Selama pemanasan
atau inkubasi jangan lupa untuk selalu memutarkan telur beberapa kali
dalam sehari, ingat cukup sebalik saja dan jangan dibulak-balik. Untuk
memenuhi kebutuhan suhu yang ideal mungkin penempatan thermometer akan
sangat diperlukan sehingga bisa didapat suhu yang tepat agar telur bisa
menetas, dan untuk itu pengaturan tinggi rendah lampu bisa dilakukan
dengan mengikuti angka yang tertera pada thermometer tersebut.

Dikarenakan
hal ini besifat darurat atau inkubator sederhana untuk telur yang tidak
dirawat dengan baik oleh indukannya, maka kemungkinan untuk berhasil
adalah sekitar 90% yang tentu saja semua tergantung dari bagaimana cara
kita menanganinya.

Baca juga  Manfaat daun lidah buaya untuk burung peliharaan

Cara lain yang bisa dilakukan adalah
menggunakan peralatan khusus perlengkapan bayi seperti misalnya alat
khusus yang sering digunakan untuk menghangatkan popok atau tisue bayi
seperti Baby Warmer ini :

Membuat inkubator / Brooder darurat untuk telur atau piyikan
Membuat inkubator / Brooder darurat untuk telur atau piyikan dari alat penghangat Popok bayi  / tissue bayi.

Suhu atau temperatur yang dibutuhkan

Faktor
utama yang menjadikan proses inkubasi dalam sebuah alat inkubator
berjalan lancar dan berpeluang berhasil adalah kondisi suhu atau
temperatur dalam inkubator tersebut yang harus sesuai dengan yang
dibutuhkan oleh telur untuk menetas. Perkembangan embrio memang cukup
toleran terhadap penurunan suhu dalam jangka pendek dan hal ini bisa
dimanfaatkan untuk memeriksa kondisi telur misalnya dengan meneropong telur
atau memindahkan telur-telur tersebut, dengan catatan tidak lebih dari
10 – 15 menitan sebelum suhu dalam telur tersebut benar-benar turun yang
mengakibatkan kebekuan/kematian pada embrio didalamnya.

Karena
itu pula sebuah perangkat inkubator yang baik tentu harus dilengkapi
dengan beberapa peralatan pengukur dan pengatur suhu atau temperatur,
seperti thermostat dan thermometer, dengan demikian kondisi suhu
didalamnya akan mudah dipantau dan jika terlihat mengalami kenaikan maka
itu artinya kita harus segera mengganti atau menambah air yang terdapar
dalam wadah didalam inkubator tersebut.

Suhu atau temperatur yang
dibutuhkan dalam menetaskan telur itu sendiri cukup bervariasi
tergantung besar-kecil dan jenis burung yang sedang coba ditetaskan
tersebut, namun untuj jenis burung lovebird dan burung kicauan secara
umum, suhu atau temperatur yang dibutuhkan adalah sekitar 36.8 – 37.0°C
atau 98.3 – 98.6ºF.

Perawatan setelah menetas

Setelah
menetas burung anakan / piyikan tetap berada didalam kotak tersebut
sampai mereka memiliki bulu-bulu yang lengkap. Selama perawatannya
tersebut kita akan melakukan proses handfeeding yang artikel lengkapnya mengenai hand feeding ini akan kita ulas pada pertemuan berikutnya.

Semoga bermanfaat.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*