Emu, Burung Endemik Australia yang Multiguna

EMU, BURUNG ENDEMIK AUSTRALIA
Burung emu (Dromaius novaehollandiae) kini menjadi
satu-satunya spesies dalam genus Dromaius yang masih tersisa. Burung endemik di
Australia itu bisa bertahan karena cukup banyak penduduk setempat, terutama yang
tinggal di pedesaan, yang menangkarnya untuk diambil bulu-bulunya.
Kerabat dekat emu di Tasmania
sudah lenyap setelah orang-orang Eropa bermigrasi ke kawasan itu pada tahun
1778. Emu dikenal sebagai burung terbesar kedua setelah burung unta. Keduanya,
bersama burung kasuari, memiliki hubungan kekerabatan karena sama-sama berada
dalam keluarga Casuariidae.
Tinggi tubuh emu dewasa bisa
mencapai dua meter, dengan bobot badan rata-rata 45 kg. Panjang paruh sekitar
15 cm. Sebagaimana burung unta, emu juga tidak mempunyai kemampuan terbang. Tetapi
kecepatan larinya mengagumkan, yaitu 50 km/jam.
Taksonomi

Berikut ini taksonomi atau tata nama ilmiah burung emu yang
sudah disepakati para ahli perunggasan di dunia:
Kerajaan  :
Animalia
Filum       : Chodrata
Kelas       :
Aves
Ordo        :
Struthioniformes
Famili      :
Casuariidae
Genus       :
Dromaius
Spesies    : Dromaius
novaehollandiae

Habitat dan Kebiasaan

Semula burung emu banyak dijumpai
di pantai timur Australia. Tetapi keberadaan mereka terdesak oleh manusia,
sehingga kini jarang dijumpai. Beruntung beberapa warga pedalaman mengembangbiakkannya
sehingga selamatlah burung ini dari ancaman kepunahan.
Di alam bebas, emu dikenal
sebagai burung pengembara. Mereka bermigrasi dalam rombongan besar untuk
mencari makanan. Makanan utamanya adalah tumbuhan dan serangga.
Dalam keadaan terpaksa, emu mampu
menahan lapar selama beberapa hari. Tetapi untuk perkara air minum, burung ini
terbilang rakus. Bayangkan, setiap hari mereka mengkonsumsi air rata-rata
delapan galon. Emu juga senang berendam di dalam air maupun lumpur.
Burung ini sangat mudah dipelihara, karena memang tidak
rewel soal makanan dan tahan terhadap suhu ekstrem. Emu bisa bertahan hidup
dalam suhu di bawah nol derajat Celcius.
Lama hidup di alam bebas rata-rata
25 tahun. Tetapi di kandang penangkaran, dengan manajemen yang jauh lebih baik,
lama hidup bisa ditingkatkan menjadi 35 tahun.
Beberapa jam setelah menetas,
anak emu sudah dapat berjalan sendiri. Dalam tiga bulan pertama, anak emu
memerlukan kandang yang hangat. Tetapi setelah itu, burung ini tumbuh menjadi
kuat dan mudah beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya, termasuk iklim tropis.
Pertumbuhannya sangat cepat,
terutama dalam satu tahun pertama.  Saat
berumur enam bulan, emu remaja akan menanggalkan sebagian besar bulunya
(moulting), untuk digantikan dengan bulu-bulu halus yang elegan seperti pada
emu dewasa.
Ada beberapa catatan menarik dari
burung ini, yaitu hampir semua bagian tubuhnya bermanfaat, dan digunakan
manusia untuk berbagai keperluan. Tidak berlebihan jika emu disebut sebagai
burung multiguna. Jika pada tanaman, kita mengenal kelapa sebagai pohon
multiguna.
Bulunya untuk Pakaian

Bulu-bulunya sangat lembut,
berwarna abu-abu yang berseling garis-garis cokelat tua. Bulu-bulunya bisa dijadikan
pakaian, mantel, sepatu, sandal, dan aneka aksesoris menarik lainnya.
PENANGKARAN BURUNG EMU
Bukan hanya bulunya, kulit dan
kukunya pun bisa dimanfaatkan. Kulit emu, misalnya, juga bisa disamak dan
digunakan untuk bahan pembuatan sandal, sepatu, dan jaket. Sedangkan kukunya diolah
menjadi aksesoris seperti bros untuk mempecantik pakaian, anting, dan
sebagainya.
Bahan Pangan Rendah
Kolesterol

Daging emu memiliki kandungan protein
tinggi dan rendah kolesterol, sehingga aman dikonsumsi oleh masyarakat di semua
umur. Dengan bobot rata-rata 45 kg, pemotongan burung emu untuk konsumsi bisa
menghasilkan karkas sekitar 25-30 kg.
Menu berbahan daging emu kini
menjadi menu favorit di hotel-hotel berbintang di Australia, terutama karena rendah
kolesterol dan memiliki cita rasa tinggi.
Telurnya untuk Konsumsi
dan Perhiasan

Burung emu termasuk produktif.
Induk betina mampu bertelur tiga hari sekali, terutama sejak Oktober hingga
April. Tidak mengherankan jika induk betina bisa menghasilkan telur sebanyak
20-50 butir dalam satu musim. Kerabang telur berwarna zamrud, atau hijau gelap.
TELUR BURUNG EMU BERWARNA ZAMRUD
Sesuai dengan postur tubuhnya, ukuran
telurnya pun terbilang raksasa. Dalam gambar terlihat telur emu yang harus
dipegang dengan dua telapak tangan orang dewasa.
Berbeda dari burung pada umumnya,
telur emu justru dierami induk jantan. Induk betina menyerahkan telurnya kepada
pasangannya untuk dierami selama 50-56 hari, dengan persentase menetas mencapai
70-80%.
Sebagian penangkar juga memasok
telur emu ke restoran dan hotel berbintang. Satu butir telur emu bisa
dikonsumsi delapan orang. Wooow!!! Sangat nikmat dan mengenyangkan tentunya.
Cangkang atau kerabang telurnya pun
tidak dibuang, karena banyak perajin yang siap membelinya untuk dijadikan kotak
perhiasan yang cantik dan bernilai seni tinggi.
HIASAN CANTIK DARI CANGKANG TELUR EMU
Minyak Emu

Sebagian besar masyarakat
Indonesia memang masih asing dengan minyak emu. Padahal, minyak ini sudah
popular di berbagai negara, tidak terkecuali di Amerika Serikat dan Australia.
Bintang Hollywood seperti Demi Moore dan Goldie Hawn pun merawat kulitnya
dengan minyak emu.
Minyak emu berasal dari bantalan
tebal di bagian punggung burung emu. Setiap ekor emu rata-rata bisa
menghasilkan 5-6 liter minyak.
Sejak ribuan tahun lalu, minyak emu
sudah digunakan masyarakat Aborigin, suku asli di Australia. Saat itu, minyak
emu lebih sering digunakan untuk mengobati luka bakar, memar, rasa sakit di persendian,
nyeri otot, salah urat, serta menyembuhkan kaki pecah-pecah dan berjamur.
Ketika diteliti di laboratorium,
ternyata kandungan minyak emu didominasi oleh asam oleat (70%) dan asam linoleat
(20%) yang non-kolesterol. Tidak mengherankan jika minyak emu juga diolah
menjadi krim penghalus kulit, pengencang kulit atau antikerut, untuk mengatasi jerawat,
menghilangkan bintik-bintik hitam pada wajah, bahkan krim anti-sinar matahari (sunblock).
Kini, peternakan emu bukan hanya
menjadi domain masyarakat petani di wilayah pedalaman Australia. Penangkaran
emu juga dijumpai di India. Di Negara Bagian Maharasthra, misalnya, tercatat
ada 3.000-an peternak emu. Sedangkan di wilayah barat Kota Pune terdapat
sekitar 1.000 peternak.
“Bisnis minyak emu saat ini
sedang menanjak pesat di India dan dunia. Bahkan India masih kekurangan bahan
baku, sehingga membutuhkan pasokan tambahan dari Australia.  Padahal, harga minyak emu terbilang mahal,”
kata Sandeep Taware, warga Kota Pune, yang sudah beternak emu sejak tahun 2000.
Semoga artikel ini bisa
menginspirasi warga Indonesia untuk menangkar emu, karena bisa diambil bulu-bulunya,
kukunya, telurnya, dan terutama minyaknya. Ada yang mau mencoba? (*)
Baca juga  Seputar burung Ciblek

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*